Coretan Siswa :)

“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat”.

Pepatah yang tak asing lagi di telinga kita.

“If you want a happiness in the world, you need knowledge. If you want a happiness in the beyond, you need knowledge. And if you want a happiness in both of them, you need knowledge, too.”

Seperti itulah pentingnya ilmu di dalam kehidupan kita. Tanpa ilmu, dunia buta. Ilmu di dapatkan dalam sebuah proses pembelajaran. Baik formal atau tidak. Tapi, pembelajaran lebih banyak dilakukan di dalam lembaga formal, seperti di sini sekolah. telah banyak berdiri sekolah-sekolah dari yang berlabel organisasi hingga swasta, dari yang bertaraf nasional hingga bertarif internasional. Tapi pernahkah ada di bayangan kita, kenapa kita sekolah?

Banyak faktor yang mendorong kita untuk sekolah. mulai dari faktor intern (dari dalam diri sendiri) dan faktor ekstern (dari luar). Faktor kemauan, niat, motivasi, hingga lingkungan sosial. Banyak orang yang salah mengartikan sekolah. ada yang sekolah hanya untuk mencari uang jajan, mencari jodoh, bahkan hanya menghabiskan sisa umurnya di dunia. Tapi, tak semua orang juga seperti itu. Ada juga yang memang memiliki niat baik, ingin mendapatkan ilmu.

Di mana ada orang baik, di situ juga ada orang jahat. Di mana ada hal positif, jangan lupa disitu juga ada hal negatif. Nothing perfect!! Beberapa siswa lebih mementingkan nilai dibanding ilmu. Demi nilai, everything they do. Demi nilai, forbidden thing they do. Coba renungkan beberapa saat. Pada saat musim ujian, beberapa siswa rela bangun pagi, hanya untuk menulis sebuah catatan kecil (kerpekan). Padahal itu kegiatan yang kurang efektif. Kenapa ??

Saat kita membuat kerpekan, kita harus menulisnya dengan font yang kecil, agar kertas yang sekecil itu bisa ditulisi huruf-huruf yang berisi bab ulangan. Kemudian kita merancang strategi, dimana kita meletakkan kertas kecil itu. Kemudian, kita harus menghafal dimana letak bagian A, dimana yang membahas bagian B, dan bagian mana yang sekiranya terdapat bahasan C. Lalu, disaat kita mulai mngerjakan soal. Hati berdebar-debar, keringat dingin, pikiran was-was, jantung bermain-main dengan nada tak tentu. Mulai membaca soal, memikirkan dimana bagian ini dibahas. Lalu mulai melihat catatan kecil, membaca perlahan, barulah kita menulis hali itu di lembar kerja kita. Waw!! Berapa menit itu kita lakukan?? Belum lagi saat kita ketahuan guru. Akan ada banyak musibah. Dari diberi marah, sanksi, tinta merah, bahkan tidak memberi kita point. Lalu, setelah kita mengumpulkannya. Pasti ada rasa takut. Takut berdosa kepada Tuhan.

Kemudian, apa untungnya membuat catatan kecil itu???

Jawaban pertama pasti menyelamatkan nilai. Banyak siswa bingung memperhitungkan nilai. Nilai yang harus selalu konsisten, bahkan juga harus naik. Banyak daya dan upaya yang dilakukan siswa, yah salah satu halnya seperti itu. Satu yang lain yaitu contekan. Dalam hal ini bisa di sebut hubungan (simbiosis). Ada yang mutualisme (saling menguntungkan) bahkan adda yang parasitisme (salah satu yang dirugikan). Beberapa siswa mengatakan, “Kalo disuruh milih, lebih baik nyontek deh dari pada ngerpek. Soalnya, resikonya kecil. Selain itu, kalo nyontek tidak menyisakan bekas. Hmm,, apa lagi kalo soal pilihan ganda, paling suka kalo bermain mata”. Hehehe,, memang kebiasaan itu sulit di hilangkan. Walaupun ada upaya untuk menghilangkan, hali itu harus dilalui dengan proses yang panjang. Kemudian, saat kita membuat catatan kecil namun hasilnya baik, tidak akan ada rasa bangga dalam diri kita (biasa saja). Lain lagi kalau dia mengerjakan sendiri, dengan brain dan heartnya sendiri. Pasti ada rasa bangga yang muncul dalam dirinya. Kemudian beberapa siswa ditanya, pilih mana nilai pas-pasan dengan jujur atau nilai maksimal tapi dengan hasil yang kurang baik. “kalo kita bicara nilai. Munurut kita nilai itu urusan masa depan. Jadi gimana ya? Mungkin milih second choice deh. Yang hasilnya bisa maksimal”. Yah, disini kita bisa tahu. Kalau memang yang diutamakan itu nilai.

Sebenernya, apa sih alasan kita membuat catatan kecil itu???

Sebenernya, kita semua tahu kalau hal seperti itu tidaklah perbuatan yang baik. Hal itu menambah daftar rincian koruptor di negeri ini. Kita sebenernya bisa mengerjakan soal-soal itu, percaya deh. Kita hanya kurang percaya diri disini. Kita mungkin kurang mempersiapkan diri saat menghadapi ulangan. Sehingga, kita perlu bantuan si kecil itu. Sebenarnya, hal itu juga merupakan bentuk usaha dalam meningkatkan point kita di sekolah, tapi itu hal negatif. Pikiran negatif bahwa kita tidak mampu, sangat memicu kelakuan kita. Contohnya : pada saat ada ulangan, Biologi misalnya. Kalian sudah belajar di rumah. Tapi setibanya di sekolah, kalian melihat banyak siswa yang curang (alias membuat kerpekan). Mulai muncul pikiran negatif dalam diri kalian, “Semua bikin kerpekan. Pasti nanti soal-soalnya sulit. Nanti kalo aku gabisa gimana? Bisa mati berdiri aku?” nah, dari pikiran inilah, yang membuat ada rasa keraguan menyelimuti hati kalian. Dan biasanya, perasaan mempengaruhi hampir 80% perbuatan kalian. So, mulai sekarang. Percaya, kalau kalian bisa. Persiapkan masa depan kalian, tanpa harus ada kecurangan. Buatlah Negara ini bangga meiliki kalian..

#Smile up🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s