Coretan Siswa :)

“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat”.

Pepatah yang tak asing lagi di telinga kita.

“If you want a happiness in the world, you need knowledge. If you want a happiness in the beyond, you need knowledge. And if you want a happiness in both of them, you need knowledge, too.”

Seperti itulah pentingnya ilmu di dalam kehidupan kita. Tanpa ilmu, dunia buta. Ilmu di dapatkan dalam sebuah proses pembelajaran. Baik formal atau tidak. Tapi, pembelajaran lebih banyak dilakukan di dalam lembaga formal, seperti di sini sekolah. telah banyak berdiri sekolah-sekolah dari yang berlabel organisasi hingga swasta, dari yang bertaraf nasional hingga bertarif internasional. Tapi pernahkah ada di bayangan kita, kenapa kita sekolah?

Banyak faktor yang mendorong kita untuk sekolah. mulai dari faktor intern (dari dalam diri sendiri) dan faktor ekstern (dari luar). Faktor kemauan, niat, motivasi, hingga lingkungan sosial. Banyak orang yang salah mengartikan sekolah. ada yang sekolah hanya untuk mencari uang jajan, mencari jodoh, bahkan hanya menghabiskan sisa umurnya di dunia. Tapi, tak semua orang juga seperti itu. Ada juga yang memang memiliki niat baik, ingin mendapatkan ilmu.

Di mana ada orang baik, di situ juga ada orang jahat. Di mana ada hal positif, jangan lupa disitu juga ada hal negatif. Nothing perfect!! Beberapa siswa lebih mementingkan nilai dibanding ilmu. Demi nilai, everything they do. Demi nilai, forbidden thing they do. Coba renungkan beberapa saat. Pada saat musim ujian, beberapa siswa rela bangun pagi, hanya untuk menulis sebuah catatan kecil (kerpekan). Padahal itu kegiatan yang kurang efektif. Kenapa ??

Saat kita membuat kerpekan, kita harus menulisnya dengan font yang kecil, agar kertas yang sekecil itu bisa ditulisi huruf-huruf yang berisi bab ulangan. Kemudian kita merancang strategi, dimana kita meletakkan kertas kecil itu. Kemudian, kita harus menghafal dimana letak bagian A, dimana yang membahas bagian B, dan bagian mana yang sekiranya terdapat bahasan C. Lalu, disaat kita mulai mngerjakan soal. Hati berdebar-debar, keringat dingin, pikiran was-was, jantung bermain-main dengan nada tak tentu. Mulai membaca soal, memikirkan dimana bagian ini dibahas. Lalu mulai melihat catatan kecil, membaca perlahan, barulah kita menulis hali itu di lembar kerja kita. Waw!! Berapa menit itu kita lakukan?? Belum lagi saat kita ketahuan guru. Akan ada banyak musibah. Dari diberi marah, sanksi, tinta merah, bahkan tidak memberi kita point. Lalu, setelah kita mengumpulkannya. Pasti ada rasa takut. Takut berdosa kepada Tuhan.

Kemudian, apa untungnya membuat catatan kecil itu???

Jawaban pertama pasti menyelamatkan nilai. Banyak siswa bingung memperhitungkan nilai. Nilai yang harus selalu konsisten, bahkan juga harus naik. Banyak daya dan upaya yang dilakukan siswa, yah salah satu halnya seperti itu. Satu yang lain yaitu contekan. Dalam hal ini bisa di sebut hubungan (simbiosis). Ada yang mutualisme (saling menguntungkan) bahkan adda yang parasitisme (salah satu yang dirugikan). Beberapa siswa mengatakan, “Kalo disuruh milih, lebih baik nyontek deh dari pada ngerpek. Soalnya, resikonya kecil. Selain itu, kalo nyontek tidak menyisakan bekas. Hmm,, apa lagi kalo soal pilihan ganda, paling suka kalo bermain mata”. Hehehe,, memang kebiasaan itu sulit di hilangkan. Walaupun ada upaya untuk menghilangkan, hali itu harus dilalui dengan proses yang panjang. Kemudian, saat kita membuat catatan kecil namun hasilnya baik, tidak akan ada rasa bangga dalam diri kita (biasa saja). Lain lagi kalau dia mengerjakan sendiri, dengan brain dan heartnya sendiri. Pasti ada rasa bangga yang muncul dalam dirinya. Kemudian beberapa siswa ditanya, pilih mana nilai pas-pasan dengan jujur atau nilai maksimal tapi dengan hasil yang kurang baik. “kalo kita bicara nilai. Munurut kita nilai itu urusan masa depan. Jadi gimana ya? Mungkin milih second choice deh. Yang hasilnya bisa maksimal”. Yah, disini kita bisa tahu. Kalau memang yang diutamakan itu nilai.

Sebenernya, apa sih alasan kita membuat catatan kecil itu???

Sebenernya, kita semua tahu kalau hal seperti itu tidaklah perbuatan yang baik. Hal itu menambah daftar rincian koruptor di negeri ini. Kita sebenernya bisa mengerjakan soal-soal itu, percaya deh. Kita hanya kurang percaya diri disini. Kita mungkin kurang mempersiapkan diri saat menghadapi ulangan. Sehingga, kita perlu bantuan si kecil itu. Sebenarnya, hal itu juga merupakan bentuk usaha dalam meningkatkan point kita di sekolah, tapi itu hal negatif. Pikiran negatif bahwa kita tidak mampu, sangat memicu kelakuan kita. Contohnya : pada saat ada ulangan, Biologi misalnya. Kalian sudah belajar di rumah. Tapi setibanya di sekolah, kalian melihat banyak siswa yang curang (alias membuat kerpekan). Mulai muncul pikiran negatif dalam diri kalian, “Semua bikin kerpekan. Pasti nanti soal-soalnya sulit. Nanti kalo aku gabisa gimana? Bisa mati berdiri aku?” nah, dari pikiran inilah, yang membuat ada rasa keraguan menyelimuti hati kalian. Dan biasanya, perasaan mempengaruhi hampir 80% perbuatan kalian. So, mulai sekarang. Percaya, kalau kalian bisa. Persiapkan masa depan kalian, tanpa harus ada kecurangan. Buatlah Negara ini bangga meiliki kalian..

#Smile up🙂

Peradaban India Kuno (Indhus dan Gangga)

1. Peradaban Lembah Sungai Indhus (Shindu)

Pusat Peradaban

Peradaban Lembah Sungai Indus berada sepanjang Sungai Indus di Pakistan sekarang ini. Peradaban Lembah Sungai Indus, 2800 SM–1800 SM, merupakan sebuah peradaban kuno yang hidup sepanjang Sungai Indus dan Sungai Ghaggar-Hakra yang sekarang Pakistan dan India barat. Peradaban ini sering juga disebut sebagai Peradaban Harappan Lembah Indus, karena kota penggalian pertamanya disebut Harappa, atau juga Peradaban Indus Sarasvati karena Sungai Sarasvati yang mungkin kering pada akhir 1900 SM. Pemusatan terbesar dari Lembah Indus berada di timur Indus, dekat wilayah yang dulunya merupakan Sungai Sarasvati kuno yang pernah mengalir.

Munculnya peradaban Harappa lebih awal dibanding kitab Veda, saat itu bangsa Arya belum sampai India. Waktunya adalah tahun 2500 sebelum masehi, bangsa Troya mendirikan kota Harappa dan Mohenjondaro serta kota megah lainnya didaerah aliran sungai India. Tahun 1500 sebelum masehi, suku Arya baru menjejakkan kaki di bumi India Kuno.

Asal mula peradaban India, berasal dari kebudayaan sungai India, mewakili dua kota peninggalan kuno yang paling penting dan paling awal dalam peradaban sungai India, yang sekarang letaknya di kota Mohenjodaro, propinsi Sindu Pakistan dan kota Harappa dipropinsi Punjabi. Penduduk kala itu adalah penduduk bangsa Dravida.

Secara geografis, letak peradaban kuno ini di sebelah utara berbatasan dengan pegunungan Himalaya. Sebelah barat berbatasan dengan Pakistan. Di selatan, berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh.

 Tata Kota

Menurut penentuan karbon 14, keberadaan kedua kota ini seharusnya adalah antara tahun 2000 hingga 3000 sebelum masehi, lagi pula kota Harappa mengekskavasi perkakas batu 10 ribu tahun lampau. Luasnya kurang lebih 25 km persegi.

Awal abad ke-20, arkeolog Inggris Marshell mengekskavasi kota kuno Mohenjondaro dan Hara. Hasilnya tingkat kesibukan dan keramaian kedua kota tersebut membuat Marshell terkejut. Ini adalah bekas ibukota dua negara merdeka pada jaman peradaban sungai India antara tahun 2350-1750 sebelum masehi, penelitian lebih lanjut menghasilkan perhitungan, dua kota masing-masing terdapat sekitar 30 hingga 40 ribu penduduk, lebih banyak dibanding penduduk kota London yang paling besar pada abad pertengahan.

Kota dibagi 2 bagian yaitu kota pemerintahan dan kota administratif. Kota administratif adalah daerah pemukiman, tempat tinggal yang padat dan jalan raya yang silang menyilang, kedua sisi jalan banyak sekali toko serta pembuatan barang-barang tembikar. Kota pemerintahan adalah wilayah istana kerajaan. Fondasi bangunan yang luas membuat jarak terhadap penduduk, pagar tembok yang tinggi besar disekeliling dan menara gedung mencerminkan kewibawaan Raja. Wilayah kota dibagi atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi jalan yang ada aliran airnya.

Sistem Pertanian dan Pengairan

Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat India. Limpahan lumpur sungai Indus telah memberikan kesuburan bagi tanah disekitarnya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerah pedalaman.

Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkan bahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain.

Sanitasi (Kesehatan)

Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan) lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikan faktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi oleh jendela.

Kamar-kamar dilengkapi dengan jendela-jendela yang lebar dan berhubungan langsung dengan udara bebas, sehingga pergantian udara cukup lancar.

Teknologi

Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan, seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas, perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alat peperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian, kain dari kapas, serta bangunan-bangunan.

Demikian juga dengan barang-barang yang terbuat dari tanah liat yang dibakar atau yang disebut terracota, teruma barang-barang peralatan rumah tangga.

Perekonomian

Sistem perekonomian masyarakat lembah Sungai Indus sangat bergantung pada pengolahan lahan pertanian di sekitar sungai. Di kawasan ini, petani menanam padi, gandum, sayuran, buah-buahan, dan kapas. Selain itu mereka juga beternak sapi, kerbau, domba, dan babi. Selain pertanian dan peternakan, perdagangan juga merupakan aspek perekonomian penting bagi masyarakat lembah Sungai Indus. Kelebihan hasil pertanian membuat mereka dapat melakukan perdagangan dengan bangsa lain terutama dengan penduduk Mesopotamia. Barang dagangan yang diperjual-belikan masyarakat lembah Sungai Indus adalah barang-barang dari perunggu dan tembaga, bejana dari perak dan emas, serta perhiasan dari kulit dan gading.

 Pemerintahan

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Maurya antara lain sebagai berikut :

  1. Candragupta Maurya

Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan ekspansi dan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya. Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab. Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaen meninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnya berdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu kota di Pattaliputra.

Candragupta Maurya menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masa pemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehingga sebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktu singkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat iuas, yaitu daerah Kashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur.

  1.  Ashoka

Ashoka memerintah.Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucu dari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masa yang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah ia menyaksikan korban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak lagi melakukan peperangan.

Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha. Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah Ashoka meninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan baru pada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecah belah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya.

Kepercayaan

Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa bertanduk besar,  dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu).

Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah binatang-binatang seperti buaya dan gajah serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian.

Hilangnya Peradaban Indus

Peradaban Sungai Indus runtuh akibat serbuan bangsa Arya tahun 1000 SM melalui celah Khyber. Sejarah bangsa Arya diperoleh dari kitab Rigveda. Setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus dan menguasai daerah yang subur, akhirnya mereka hidup menetap.

2. Peradaban di Lembah Sungai Gangga

Lokasi

Lembah sungai Gangga dengan anak sungainya Yamuna terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Vindhya. Kedua sungai tersebut bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir di kota-kota besar seperti Delhi, Agra, dan bermuara di wilayah Bangladesh ke teluk Banggala. Sungai Ganggabertemu dengan Sungai Brahmaputra yang bermata air di Pegunungan Kwen Lun. Lembah Sungai Gangga merupakan daerah yang subur.

Pendukung

Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yang termasuk bangsa Indo Jerman. Bangsa Aria memasuki wilayah India antara tahun 2000- 1500 SM melalui celah Pas Kaiber di Pegunungan Hindu Kush. Merka berkulit putih, berbadan tinggi, dan berhidung mancung. Pencahariannya semula berternak  dan kehidupannya terus mengembara. Tetapi setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravisa di Lembah Sungai Indus dan menguasai daerah yang subur, mereka akhirnya bercocok tanam dan hidup menetap. Selanjutnya, mereka menduduki Lembah Sungai Gangga dan terus mengembangkan kebudayaannya. Kebudayaan campuran antara kebudayaan bangsa Arya dengan bangsa Dravida dikenal dengan sebutan kebudayaan Hindu.

Masyarakat

Bangsa Aria berusaha untuk tidak bercampur dengan bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli India. Mereka menyebut bangsa Dravida adalah anasah artinya tidak berhidung atau berhidung pesek dan dasa artinya raksasa. Untuk memelihara kemurnian keturunannya, diadakan sistem pelapisan (kasta) yang dikatakannya bersumber pada ajaran agama. Bangsa Aria berhasil mengambil alih kekuasaan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, dalam kebudayaan terjadi percampuran (asimilasi) antara Aria dan Dravida. Percampuran budaya itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu).

Untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa Arya berusaha menjaga kemurnian ras. Artinya, mereka melarang perkawinan campur dengan bangsa Dravida. Untuk itulah, bangsa Arya menciptakan sistem kasta dalam kemasyarakatan.

Sistem kasta didasarkan pada kedudukan, hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat. Pembagian golongan atau tingkatan dalam masyarakat Hindu terdiri dari empat kasta atau caturwarna, yakni :

  1. Brahmana (pendeta), bertugas dalam kehidupan keagamaan;
  2. Ksatria (raja, bangsawan dan prajurit), berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara,
  3. Waisya (pedagang, petani, dan peternak), dan
  4. Sudra (pekerja-pekerja kasar dan budak).

Kasta Brahmana, Kastria, Waisya terdiri dari orang-orang Aria. Kasta Sudra terdiri dari orang-orang Dravida. Selain keempat kasta di atas, ada lagi kasta Paria/Candala atau Panchama. Panchama yang berarti “kaum terbuang”. Kasta ini dipandang hina, karena melakukan pekerjaan kotor, orang jahat dan tidak boleh disentuh, lebih-lebih bagi kaum Brahmana.

Pemerintahan

Perkembangan sistem pemerintahan di Lembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan sistem pemerintahan masyarakat di daerah Lembah Sungai Indus. Runtuhnya Kerajaan Maurya menjadikan keadaan kerajaan menjadi kacau dikarenakan peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan yang kacau, mulai aman kembali setelah munculnya kerajaan-kerajaan baru. Kerajaan-kerajaan tersebut di antaranya Kerajaan Gupta dan Kerajaan Harsha.

  1. Kerajaan Gupta

Pendiri Kerajaan Gupta adalah Raja Candragupta I dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.

Masa kejayaan Kerajaan Gupta terjadi pada masa pemerintahan Samudragupta (Cucu Candragupta 1). Pada masa pemerintahannya Lembah Sungai Gangga dan Lembah Sungai Indus berhasil dikuasainya dan Kota Ayodhia ditetapkan sebagai ibukota kerajaan.

Pengganti Raja Samudragupta adalah Candragupta II, yang dikenal sebagai Wikramaditiya. Ia juga bergama Hindu, namun tidak memandang rendah dan mempersulit perkembangan agama Budha. Bahkan pada masa pemerintahannya berdiri perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda.

Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat semakin makmur dan sejahtera.. Kesusastraan mengalami masa gemilang. Pujangga yang terkenal pada masa ini adalah pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul “Syakuntala”. Perkembangan seni patung mencapai kemajuan yang juga pesat. Hal ini terlihat dari pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil di Syanta.

Dalam-perkembangannya Kerajaan Gupta mengalami kemunduran setelah meninggalnya Raja Candragupta II. India mengalami masa kegelapan selama kurang lebih dua abad.

  1. Kerajaan Harsha

Setelah mengalami masa kegelapan, baru pada abad ke-7 M muncul Kerajaan Harsha dengan rajanya Harshawardana. Ibu kota Kerajaan Harsha adalah Kanay. Harshawardana merupakan seorang pujangga besar. Pada masa pemerintahannya kesusastraan dan pendidikan berkembang dan pesat. Salah satu pujangga yang terkenal pada masa kerajaan Harshawardana adalah pujangga Bana dengan karyanya berjudul “Harshacarita”.

Raja Harsha pada awalnya memeluk agama Hindu, tetapi kemudian memeluk agama Buddha. Di tepi Sungai Gangga banyak dibangun wihara dan stupa, serta dibangun tempattempat penginapan dan fasilitas kesehatan. Candi-candi yang rusak diperbaiki dan membangun candi-candi baru. Setelah masa pemerintahan Raja Harshawardana hingga abad ke-1 1 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang pernah berkuasa di Harsha.

 Kebudayaan

Di Lembah Sungai Gangga inilah kebudayaan Hindu berkembang, baik di wilayah India maupun di luar India. Masyarakat Hindu memuja banyak dewa (Politeisme). Dewa-dewa tersebut, antara lain, Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain sebagainya. Dalam agama Hindu dikenal dengan sistem kasta, yaitu pembagian kelas sosial berdasarkan warna dan kewajiban sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, sistem kasta inilah yang menyebabkan munculnya agama Buddha. Hal ini dipelopori oleh Sidharta Gautama.

Agama Buddha mulai menyebar ke masyarakat India setelah Sidharta Gautama mencapai tahap menjadi Sang Buddha. Agama Buddha terbagi menjadi dua aliran, yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Hinayana. Peradaban Sungai Gangga meninggalkan beberapa bentuk kebudayaan yang tinggi seperti kesusastraan, seni pahat, dan seni patung. Peradaban dari lembah sungai ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Asia termasuk di Indonesia.

Agama Hindu

Agama dan kebudayaan Hindu lahir pertama kali di India sekitar tahun 1500 SM. Agama dan kebudayaan Hindu ini mengalami pertumbuhan pada zaman Weda. Kebudayaan Hindu merupakan perpaduan antara kebudayaan bangsa Aria dari Asia Tengah yang telah memasuki India dengan kebudayaan bangsa asli India (Dravida). Hasil percampuran itulah yang disebut agama Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang disebut Aryawarta (negeri orang Aria) dan Hindustan (tanah milik orang Hindu). Sejak berkembangnya kebudayaan Hindu di India maka lahir agama Hindu. Dari India, agama Hindu menyebar ke seluruh dunia dan banyak memengaruhi kebudayaan-kebudayaan di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut pendapat para ahli sejarah, berdasarkan temuan berbagai peninggalan sejarah, diyakini bahwa bekas kota Mahenjo-Daro (Larkana) dan Harappa (Punjab) di lembah Sungai Indus merupakan tempat timbul dan berkembangnya agama Hindu.

Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Arya (Indo-Jerman) ke India kira-kira tahun 1500 SM. Mereka datang melewati celah Kaiber. Celah tersebut terletak di pegunungan Hindu Kush, sebelah barat laut India. Itulah sebabnya celah Kaiber terkenal dengan sebutan “Pintu Gerbang India”. Kemudian bangsa Arya mendesak bangsa Dravida dan Munda yang telah mendiami daerah tersebut.

Akhirnya bangsa Arya berhasil menempati daerah celah Kaiber yang sangat subur. Bangsa Dravida mendiami Dataran Tinggi Dekan (India Selatan). Bangsa Munda mendiami daerah-daerah pegunungan. Pemeluk agama Hindu mengenal tiga dewa tertinggi yang disebut Trimurti, yakni Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pelindung), dan Syiwa (dewa perusak). Dewa-dewi lainnya antara lain : Agni (dewa api), Bayu (dewa angin), Surya (dewa matahari), Candra (dewa bulan), Indra (dewa perang), Saraswati (dewi pengetahuan dan seni), Lakshmi (dewi keberuntungan), dan Ganesha (dewa pengetahuan dan penolong).

Sumber ajaran Hindu adalah kitab Weda, yang bermakna pengetahuan Hindu. Kitab-kitab penganut Hindu:

  1. Kitab Weda

Terdiri dari 4 Samhita atau himpunan, yaitu:

1)      Reg Weda (merupakan kitab yang tertua), berisi puji-pujian kepada dewa

2)      Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci yang merupakan pujian pada waktu melaksanakan upacara

3)      Yajur Weda, berisi doa-doa yang diucapkan pada waktu upacara sesaji.

4)      Atharwa Weda, berisikan doa-doa bagi penyembuhan penyakit dan nyanyian sakti kaum brahmana.

  1. Kitab Brahmana

Berisi penjelasan kitab Weda, yang disusun oleh para pendeta.

  1. Kitab Upanishad

Berisi petunjuk-petunjuk, agar orang dapat melepaskan diri dari samsara, dan dapat mencapai moksa (kebahagiaan abadi).

  1. Kitab yang berisikan cerita kepahlawanan:

1)      Mahabharata, karya Wiyasa berisikan cerita peperangan antara Pandawa melawan Kurawa. Keduanya masih keluarga seketurunan, yang memperebutkan tahta kerajaan Astina. Perebutan akhirnya dimenangkan oleh Pandawa.

2)      Ramayana, karya Walmiki menceritakan peperangan antara Rama dengan Rahwana. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Rama. Cerita Ramayana melambangkan kejujuran (dilambangkan Rama) melawan keangkaramurkaan (dilambangkan Rahwana).

Inti ajaran agama Hindu didasarkan pada karma, reinkarnasi dan moksa. Karma adalah perbutan baik buruk dari manusia ketika di dunia yang menentukan kehidupan berikutnya. Reinkarnasi ialah penjilmaan kembali kehidupan manusia sesuai dengan karmanya. Bila seseorang berbuat baik akan lahir kembali ke tingkat yang lebih tinggi; sebaliknya jika berbuat buruk mengakibatkan reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah, misalnya lahir sebagai hewan. Keadaan hidup-mati kembali merupakan persitiwa hidup yang menderita (samsara). Moksa ialah tingkat hidup tertinggi yang terlepas dari ikatan keduniawian atau terbebas dari reinkarnasi.

Agama Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta, yaitu Brahmana, terdiri dari golongan pendeta, bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan; Ksatria, terdiri dari golongan bangsawan dan prajurit, berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara; Waisya, bertugas untuk berdagang, bertani, dan beternak; Sudra, bertugas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti budak dan pelayan. Adanya sistem kasta (caturwarna) tersebut pada dasarnya merupakan pembagian tugas dan kelas dalam masyarakat Hindu yang didasarkan atas keturunan. Perkawinan antar kasta dilarang, terhadap yang melanggar dikeluarkan dari kasta (out cast) dan masuk dalam golongan atau kasta Paria.

Bangsa Aria berhasil mengambil alih kekuasaan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, dalam kebudayaan terjadi percampuran (asimilasi) antara Aria dan Dravida. Percampuran budaya itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu).

Awas Radiasi Handphone !!!

Siapa yang nggak kenal Handphone ?? ?? bisa dikatakan ndesso :p

Handphone, benda ini sungguh tak asing lagi di telinga kita. Bahkan, hampir semua orang di dunia ini memiliki benda tersebut. HP begitu public menyebutnya. Yang memiliki banyak fasilitas dan aplikasi. Mulai dari menelephone, ber-SMS ria, berfoto-foto, mendengarkan lagu, hingga ber-social network.  HP sangat dekat dengan kehidupan manusia. HP sudah seperti bahan pokok yang hukumnya fardhu ain dimiliki setiap orang. Karena dengan benda itu, kita bisa terhubung ke orang-orang yang jauh. Mulai dari lokal, interlokal, hingga internasional.

Namun, HP yang kini kita gunakan ternyata memiliki dampak negatif yang setara dengan merokok. Yah, kenapa begitu ??

Radiasi pada handphone ternyata bisa merusak organ-organ tubuh kita. Misalnya : saat kita mengantonginya di celana dengan frekuensi waktu yang relatif lama, hal ini dapat merusak ginjal bahkan merusak sistem reproduksi kita. Pemakaiaan HP juga dapat berpengaruh pada otak kita. Orang-orang yang memiliki kebiasaan menelephone, beresiko terkena kanker otak. Karena saat kita menelephone, jarak HP sangat dekat dengan otak kita. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa radiasi dapat merusak otak dan menyebabkan kanker otak. Sebaiknya, kita menggunakan headshet saat menelephone. Salah satu langkah untuk menjauhakan HP dari organ penting dalam tubuh kita. Maka dari itu, WHO menyarankan untuk memakai layanan SMS untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Dampak HP bukan hanya dirasakn oleh orang dewasa saja, melainkan juga anak-anak hingga janin dalam rahim seorang ibu. Ibu hamil yang terlalu sering menggunakan HP saat masa-masa kehamilannya, dapat beresiko terhadap kandungannya. Dalam sebuah artikel, di katakan : Pernah terjadi seorang wanita berturut-turut mengalami keguguran ketika usia janin berusia 2-3 bulan. Pasangan suami istri ini mengecek kehamilan berikutnya dan mendapati bahwa janin mengalami kerusakan sel berkesinambungan sampai janin mati. Dokter mengatakan bahwa rahim wanita ini telah terinfeksi oleh radiasi HP sehingga membuat janin di dalamnya tidak bisa bertahan lama untuk hidup dan berkembang. Rahimnya telah mati jadi tidak mungkin bagi dia untuk memiliki janin yang hidup pula.. Selidik punya selidik, wanita ini ternyata memiliki kebiasaan menyimpan HP di jaket kerja dia yang posisinya tepat dekat rahim selama beberapa tahun.

Walaupun janin itu dapat terlahir, nantinya ia akan terlahir menjadi seorang anak yang hiperaktif. Hal ini akan lebih beresiko saat anak menggunakan HP sebelum ia berusia 7 tahun. Radiasi HP lebih beresiko pada otak anak-anak ketimbang otak dewasa. Karena otak anak masih lemah. Sehingga lebih mudah terkena radiasi HP.

Itulah alibi mengapa efek radiasi HP setara dengan efek merokok. Kalau radiasi HP merusak hampir keseluruhan organ tubuh kita, kalau merokok dapat merusak paru-paru hingga menyebabkan kematian. Perusahaan Smartphone seperti iPhone dan Blackberry, mereka terbilang proaktif menanggapi peringatan ini. Mereka menggumumkan bahwa penggunaan iPhone sebaiknya berjarak 1,5 cm dari kepala, sedangkan untuk Blackberry berjarak 2,5 cm.

Buat kalian, silahkan simak beberapa tips untuk mengantisipasi efek radiasi HP :

  • Batasi penggunaan HP atau telephone tanpa kabel lainnya
  • Gunakan headshet atau headphone saat bertelephone, hal ini dapat menjauhkan radiasi HP pada tubuh anda
  • Jangan terlalu sering menggunakan Bluethoot, dan matikan jika tidak digunakan. Radiasi dari Bluethoot juga berpengaruh
  • Jangan menyimpan HP di saku celana, karena berpotensi merusak organ reproduksi anda
  • Batasi penggunaan HP di dalam gedung, karena dalam gedung lebih memancarkan sinar radiasi daripada di luar gedung
  • Jangan terbiasa bertelephone dengan berjalan, karena saat berjalan sinyal HP akan berusaha mencari pancaran sinyal. Saat sinyal lemah, maka ia mengeluarkan radiasi yang lebih besar
  • Biasakan bertelephon menggunakan 2 telinga
  • Jangan terlalu sering menyimpan HP di dekat rahim pada ibu-ibu hamil. Hal tersebut dapat mengganggu aktifitas janin dalam rahim.

Itulah beberapa tips yang dapat saya bagi dengan anda. Jangan di abaikan !! Lebih baik kita mengantisipasi daripada mengobati demi masa depan kita. So, guys !! bagi dengan teman-teman, keluarga serta orang-orang yang kalian sayangi. Jangan biarkan HP merusak masa depan mereka🙂

APRESIASI PUISI

Seperti bentuk karya sastra lain, puisi mempunyai ciri-ciri khusus. Pada umumnya penyair mengungkapkan gagasan dalam kalimat yang relatif pendek-pendek serta padat, ditulis berderet-deret ke bawah (dalam bentuk bait-bait), dan tidak jarang menggunakan kata-kata/kalimat yang bersifat konotatif.

Kalimat yang pendek-pendek dan padat, ditambah makna konotasi yang sering terdapat pada puisi, menyebabkan isi puisi seringkali sulit dipahami.  Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut untuk mengapresiasi puisi, terutama pada puisi yang tergolong ‘sulit’ :

  1. Membaca puisi berulang kali
  2. Melakukan pemenggalan dengan membubuhkan :

– Garis miring tunggal ( / ) jika di tempat tersebut diperlukan tanda baca koma.

– Dua garis miring ( // ) mewakili tanda baca titik, yaitu jika makna atau pengertian kalimat sudah tercapai.

3.   Melakukan parafrase dengan menyisipkan atau menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas maksud kalimat dalam puisi.

4.   Menentukan makna kata/kalimat yang konotatif (jika ada).

5.   Menceritakan kembali isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa.

 

Berbekal hasil kerja tahapan-tahapan di atas, unsur intrinsik puisi seperti tema, amanat/ pesan, feeling, dan tone dapat digali dengan lebih mudah. Berikut ini diberikan sebuah contoh langkah-langkah menganalisis puisi.

 

MATA PISAU

(Sapardi Djoko Damono)

 

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;

kau yang baru saja mengasahnya

berpikir : ia tajam untuk mengiris apel

yang tersedia di atas meja

sehabis makan malam

ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

 

 

Tahap I      :   Membaca puisi di atas berulang kali (lakukanlah!)

 

Tahap II     :   Melakukan pemenggalan

 

MATA PISAU

(Sapardi Djoko Damono)

 

Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;//

kau yang baru saja mengasahnya /

berpikir : // ia tajam untuk mengiris apel /

yang tersedia di atas meja /

sehabis makan malam //

ia berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu //

 

 

Tahap III    :   Melakukan parafrase

 

MATA PISAU

(Sapardi Djoko Damono)

 

Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;//

(sehingga) kau yang baru saja mengasahnya /

berpikir : // (bahwa) ia (pisau itu) tajam untuk mengiris apel /

yang (sudah) tersedia di atas meja /

(Hal) (itu) (akan) (kau) (lakukan) sehabis makan malam //

ia (pisau itu) berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu //

 

 

Tahap IV   :   Menentukan makna konotatif kata/kalimat

 

pisau       :  sesuatu yang memiliki dua sisi, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, bisa  pula disalahgunakan sehingga menghasilkan sesuatu yang buruk, jahat, dan mengerikan.

apel        :  sesuatu yang baik dan bermanfaat.

terbayang olehnya urat lehermu   :  Sesuatu yang mengerikan.

Tahap V    :   Menceritakan kembali isi puisi

 

Berdasarkan hasil analisis tahap I – IV di atas, maka isi puisi dapat disimpulkan sebagai berikut :

Seseorang terobsesi oleh kilauan mata pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!

Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya   pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel),  namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan  mengiris urat leher).

 

Dengan memperhatikan hasil kerja tahap 1 hingga 5, dapat dikemukakan unsur-unsur intrinsik puisi “Mata Pisau” sebagai berikut :

 

 

No.

Definisi

“Mata Pisau”

1

 

 

Tema     :  Gagasan utama penulis

yang dituangkan dalam

karangannya.

 

Sesuatu hal dapat digunakan  untuk kebaikan (bersifat positif), tetapi sering juga disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Contoh : anggota tubuh, kecerdasan, ilmu dan teknologi, kekuasaan dll.

2

 

Amanat  :  Pesan moral yang ingin

disampaikan penulis

melalui karangannya

 

Hendaknya kita memanfaatkan segala hal yang kita miliki untuk tujuan positif supaya hidup kita punya makna

 

3

 

Feeling   :  Perasaan/sikap

penyair terhadap

pokok persoalan  yang

dikemukakan dalam

puisi.

 

Penyair tidak setuju pada tindakan seseorang yang memanfaatkan sesuatu yang dimiliki untuk tujuan-tujuan negatif.

 

4

 

Nada      : Tone yang dipakai

penulis

dalam mengungkapkan

pokok pikiran.

 

Nada puisi “Mata Pisau” cenderung datar, tidak nampak luapan emosi penyairnya.

 

Kecuali keempat point di atas, perlu diperhatikan juga citraan (image) dan gaya bahasa yang terdapat dalam puisi.

 

 

 

vvv


Kontroversi UAN

Heracilitus, seorang Filsuf Yunani Kuno mengatakan, “Education is a Second Sun to its Possessors”, yaitu pendidikan adalah matahari kedua bagi orang yang memilikinya. Tentu saja hal itu dimaknai bahwa setiap manusia haruslah berpendidikan. Agar dapat menjadi penerang dalam hidupnya kelak. Oleh karena itu, pemerintah mewajibkan pendidikan minimal 12 tahun bagi warga negaranya. Tentu bukan hal berlebihan, karena generasi muda inilah yang menjadi estafet untuk memajukan bangsa dan negara kita ini.

Harus kita akui, bahwa pendidikan kita belum berjalan dengan sangat baik. Artinya, masih banyak masalah-masalah yang menerjang dunia pendidikan negeri ini. Bukan masalah baru, masalah ini sudah berulang kali terjadi, bahkan setiap tahunnya. Masalah besar dunia pendidikan kita ialah masalah UAN yang dikabarkan menjadi momok bagi siswa kelas 6, 9, dan 12. Tentu bukan perkara asing yang melintas dalam otak kita.

Muncul gagasan bahwa UAN bukanlah standart untuk tolok ukur keberhasilan pendidikan. Namun, UAN adalah salah satu tolok ukur. Bukan satu-satunya. Karena keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari segi kognitif, yang mengacu pada kecerdasan otak siswa-siswinya. Dilihat dari segi pelaksanaannya, UAN sangat jauh dari kesan kejujuran. bukan hanya siswa, bahkan dari kalangan guru sampai dengan dinas pendidikan wilayah setempat. Hal itu dilakukan hanya untuk meluluskan 100% siswanya dan mendapatkan nilai plus dikalangan masyarakat. Padahal, mereka tidak melakukan semua itu dengan kejujuran.

Sungguh tragis bila kita ulur masalah ini. Apakah kita akan terus seperti ini, memberikan pendidik serta pendidikan yang sudah tak jujur kepada generasi muda bangsa ini? Mulai hal seperti inilah, kita sudah berinvestasi menciptakan para koruptor yang siap merauk uang negara. Naudzubillah himindzalik…

UAN yang menjadi tolok ukur keberhasilan siswa sebagai anak didik dan guru sebagai pendidik, seakan-akan memberikan dampak negatif bagi mereka. UAN seperti momok bagi mereka. Suasana belajar yang seharusnya santai, fun, dan membuat mereka bisa mengekspresi segala kreatifitas mereka, kini menjadi suram. UAN tak memberi mereka cela untuk bernafas. Suasana belajar menjadi keras, tegang dan terburu-buru, hanya demi deadline UAN. Bahkan, mereka diwajibkan mengikuti les pagi yang harus berangkat pukul 6.00, dan pulang pukul 15.00. itupun bukan sehari atau dua hari saja. Kegiatan ini dilakukan hampir setiap tahun di pelbagai sekolah, hanya untuk masa ujian 3-6 hari saja.

Gagasan yang menyebutkan bahwa UAN adalah satu-satunya pengukur keberhasilan pendidikan, tentu salah. Banyak aspek-aspek lain yang bisa dilihat. Seperti pada aspek spiritual, moral dan akademis. Aspek spiritual misalnya, kita bisa melihat dari ketaqwaan mereka, keloyalitasan mereka mengikuti kegiatan keagamaan, dsb. Aspek moral bisa dilihat dari perilaku mereka, tingkat kesopanan mereka terhadap guru dan karyawan sekolah, serta absensi kelas. Sedangkan akademis, bisa dilihat dari kegiatan mereka dalam pembelajaran, serta hasil pembelajaran yang dilakukan.

Jika kita lihat, lebih banyak mana manfaat serta mudharatnya UAN, lebih baik UAN dilaksananakan secara menasional tapi tidak dijadikan acuan ataupun tolok ukur keberhasilan pendidikan. Tuhan telah memberikan bakat, kemampuan dan kecerdasan sudah pada porsinya. Artinya, jika kita lemah dibidang akademis, mungkin saja kita berbakat dibidang non-akademis. Seperti olahraga, seni, dll. Sehingga, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat ataupun diukur “Seberapa porsenkah jumlah siswa yang lulus ujian?”, tapi juga diukur dari “Apasaja prestasi dunia pendidikan di olimpiade-olimpiade dunia?” dan “Berhasilkan dunia pendidikan mencetak siswa menjadi generasi muda yang siap akan tantangan dunia internasional?”

Sekarang bukan lagi saatnya kita beragument tentang keefektifitasan UAN, tapi bagaimana kita menciptakan UAN sebagai pengukur keberhasilan sekolah-sekolah nasional mendidik siswanya dibidang akademis menjadi suatu kegitan tahunan yang menyenangkan dan memberikan efek positif bagi dunia pendidikan negeri ini.

The Example To Describe “Tikus Temple”

Ok friends, let me tell you about ‘Rat Temple’ or in Indonesia is ‘Tikus Temple’.

By the way, do you ever get there before? Right, i think you all ever get there. Why? Because it is not far from Mojokerto Regency. The location is in Temon village, Trowulan district, Mojokerto Regency. It is about 8 miles from Mojokerto Regency to the southwest.

Tikus Temple is built in the 13th  century. It is found by the regent of Mojokerto, he is RAA kromojoyo. Previously, he heard about the complaints from Temon’s people that many rat had attaked their fields. And then, he instructed to village officials in order to mobilize the masses to war with the rats. Surprisingly, the rats always run and get into a hole in a large mound. Because he want to clean up the rats until they run out, he requested to dig the mound. Apparently, there was a temple inside of mound. Because of it, RAA Kromojoyo gave name for the temple as Tikus Temple.

Tikus temple  restored officially by Goverment of Indonesia in 1984- 1989.  And as you know, it has been finished in 21st September 1989. The date is same as my birthday. Yeah, I am very proud.

Tikus Temple is a building that related to the water or in Indonesia mention with “petirtaan”. Based on the myth, the water that flows to Tikus Temple was from Mount Mahameru. Many peoples believe that the water can drive away the rats in their field.The lenght is 25.4 meters, the widht is 23.6 meters, the hight is 5.20 meters, and at a depth about 2 meters from the ground.

You can get there by motorcycle, car, bicycle, or public transport. Usually, the ticket price is free. But you must pay for parking, it is about 2500 rupiahs all day. It is very cheap, isn’t it?

That is why, in everyday even holiday, many peoples visit there. They can both enjoy the view and take pictures. So, when will you visit there??????